Rabu, 18 November 2009

Toilet Training Abang Jaja




Sekitar sebulan lalu, keluarga di rumah berinisiatif untuk melakukan toilet training buat Abang Jaja. Secara usia memang sudah cukup pas karena Kak Icha juga toilet training-nya saat usia tiga tahun ini. Awalnya Abang Jaja sendiri menyambut gembira karena Jaja sudah mulai iri ingin buang air sendiri karena melihat Kak Icha. Jaja senang sekali tidak dipakaikan diapers atau lampin sekali pakai ini. Untuk buang air kecil memang Abang Jaja belum bisa menahannya sehingga sudah bisa dipastikan celananya basah selalu dan artinya cucian jadi dua kali lipat, hehehe....   Nah, kalo untuk buang air besar, Abang Jaja perlu diacungkan jempol karena sudah bisa mengatakan "mau bau" untuk mengungkapkan keinginannya buang air besar. Mungkin karena pakai acara mulas di perut jadi orang rumah juga mengerti.

Yang paling menarik di toilet training-nya Abang Jaja ini adalah masalah kesigapan. Kita harus buru-buru membawa Abang Jaja ke toilet sebelum buang air kecil/besarnya terjadi. Maklum Jaja kan belum bisa menahan lama-lama. Yang disayangkan Mamah gak bisa selalu memantau toilet training ini secara waktu Mamah lebih banyak dihabiskan di kantor. Paling hanya hari sabtu dan minggu. Kalau Mamah yang memantau, biasanya Mamah sudah memperkirakan kapan Jaja akan buang air kecil. Misalnya di pagi hari setelah bangun tidur, sekitar 30 menit setelah minum air yang banyak (Abang Jaja minumnya banyak sekali loh ) dan jika udara relatif lebih dingin. Mamah juga rajin menanyakan apakah Jaja mau buang air kecil atau tidak terutama saat Kak Icha saat itu buang air kecil. Kalau buang air besar relatif lebih mudah karena biasanya hanya sekali sehari dan Abang Jaja biasanya sekitar 30 menit sampai sejam setelah makan siang atau malam, hehehe.........

Nah, masalahnya sudah seminggu ini Jaja mogok toilet training. Gak mau sama sekali buang air kecil dan besar di toilet. Selalu di diapers/lampin. Bahkan selalu minta pakai diapers/lampin kalau gak dipakaikan bisa ngambek. Pernah waktu Jaja mau buang air kecil dengan perut mulas, Mamah buru-buru membukakan celana dan menaruhnya di kloset, Jaja langsung nangis kejer, teriak dan bilang mau baunya di diapers saja. Semuanya jadi bingung dengan perubahan ini padahalnya starting pointnya sudah bagus karena keinginan Jaja sendiri. Usut punya usut ternyata Jaja capek kalo harus jongkok di kloset, karena kloset di rumah Aek itu kloset jongkok. Kakinya pegal kalau mau buang air apalagi sambil menahan mulas di perut. Bisa dimaklumi karena Kak Icha dulu pakai kloset duduk khusus untuk anak kecil.

Hhmm.......... kayaknya perlu ke toko nih cari-cari toilet khusus buat toilet training kayak gini. Kira-kira berapa yah harganya????

Selasa, 17 November 2009

Tour de Jogjakarta and Central Java Part VIII - Pekalongan, Tegal dan Brebes





Hari senin pagi, kita semua sudah siap-siap berangkat pulang kembali ke Jakarta. Sengaja berangkat pagi sekali karena Bude Uut, sepupu Pakde Ferdi yang menempati rumah itu ada upacara pagi, maklum deh pegawai Pemkot Semarang. Namun, kita sarapan pagi dulu sama nasi pecel, sambal krecek, aneka gorengan dan opor ayam. Lumayan mengenyangkan lah buat duduk-duduk di mobil selama perjalanan.

Dari Semarang kita melewati Kendal menuju Pekalongan. Sengaja ke Pekalongan dulu buat beli batik yang banyak secara gak sempet beli banyak di Beringharjo dan Pasar Klewer Solo. Alhamdulillh, ternyata nyampe Pekalongan jam 9 pagi dan toko-toko sudah banyak yang buka. Seneng banget karena bisa milih-milih sepuasnya apalagi harganya lumayan terjangkau untuk ukuran kantong Mamah. Nah, karena batik jadi pakaian wajib di UI untuk hari jumat, Mamah jadi semakin kalap. Pas ngeliat ada baju batik untuk pasangan suami istri, jadi tambah kalap lagi. Akhirnya ngeborong deh, Mamah beli batik warna abu-abu semi sutera, batik katun jatuh warna merah, coklat gelap, dan pasangan warna campuran antara hitam dan coklat susu buat Mamah dan Papah. Sebenernya agak nyesel juga sih waktu di Beringharjo, banyak yang jual kain batik meteran yang murah meriah. Bayangin aja yang semi sutera dan agak glamour aja harga semeternya cuma 22 ribu rupiah. Sayang, saat itu perut Mamah gak mau kompromi sih, jadi gak kebeli deh.

Dari Pekalongan kita ke Tegal, kampung halaman Papah tercinta. Kita lihat laut Tegal yang biru sekali ditempa sinar matahari selama perjalanan. Sayangnya hari panas terik jadi kita juga gak mampir ke pantainya. Di kota Tegal ini kita disambut dengan sambutan khas "Tegal Laka-laka". Sebenarnya di Tegal ini banyak saudara Papah seperti Tante Dewi, hanya saja karena gak tau alamatnya ya gak mampir deh! Kota Tegal lumayan rame dan sengaja kita datang ke sini buat cari tahu Tegal yang terkenal itu. Kita beli tahu Tegalnya di jalan Adiwerna, pas di depan Bank Mandiri. Kios tahu Tegal ini adalah yang pertama kali berdiri dan yang jual chinese (pantesan enak ). Asli, yang ngantri rame banget, sekali goreng bisa lima puluh potong tahu dan selalu habis dalam sekejap. Bahkan yang ngantri buat beli tahu mentah plus acinya aja itu juga banyak loh. Maksudnya biar lebih tahan lama dan bisa digoreng di rumah. Mamah beli satu box besar isi 50 buah tahu. Satu tahunya dihargai 800 perak. Ini lumayan mahal memang tapi worthy secara tahunya tuh enak banget, gurih rasanya dan kenyal acinya juga mantebs. Bayangin aja, secara kita semua cuma terdiri dari 5 dewasa dan 2 anak-anak, itu tahu yang segambreng banyaknya langsung habis dalam sekejap, hahaha.......... asli deh enak banget! Jadi inget, dulu kalo Mamah dan Papah kangen sama tahu Tegal ini pasti mampir deh ke daerah Pancoran buat beli. Pastinya kalo Papah pulang, kita pasti bakalan sering beli tahu Tegal ini :-)

Puas makan tahu bukan berarti tidak ada slot untuk makanan lain. Kita semua langsung menuju Brebes buat makan bebek khas sana yaitu blengong. Blengong ini adalah sejenis unggas hasil persilangan antara itik dan entok. Kita semua udah ngiler secara kita semua penggemar bebek. Tapi sayang, setelah menjelajah Kota Brebes sampai ke pelosoknya tetap juga tak ditemukan rumah makan yang menjual blengong ini buka. Semuanya tutup karena masih suasana lebaran. Whoaaa........... asli sedih banget, nafsu makan mulai menurun perlahan. Akhirnya untuk menaikkan kembali kelesuan ini Pakde mengajak makan sate kambing di dekat pasar raya Brebes. Sate kambingnya empuk karena terbuat dari kambing muda dan pastinya warna satenya setelah dibakar itu bukan abu-abu kehitaman tetapi abu-abu putih. Ini karena dibakar tanpa bumbu apa-apa dan baru dikasih bumbu kecap dan irisan bawang, tomat dan cabai ketika akan disantap jadi kerasa banget kambingnya.  Satu porsi sate kambingnya isi 10 tusuk dihargai 17 ribu rupiah. Lumayan lah! Setelah itu kita mampir ke pasarnya buat beli pilus Tegal, gak tanggung-tanggung belinya satu bal gitu udah kayak mau jualan aja, hehehe...........

Meski gak banyak mampir di tempat wisata di Tegal dan Brebes, alhamdulillah masih bisa wisata kuliner meski terbatas :-)

Tour de Jogjakarta and Central Java Part VII - Ambarawa dan Bandungan





Sehari sebelum pulang, Pakde dan Bude mengajak kita jalan-jalan ke Museum Kereta Api Ambarawa. Ini spesial untuk membahagiakan Jaja yang tergila-gila dengan semua yang berbau kereta api. Maklum deh secara si Jaja itu dari kecil fanatis sama kartun Thomas The Train.

Pagi-pagi setelah sarapan kita langsung berangkat menuju Ambarawa. Gak terlalu jauh juga dari Semarang. Kita semua kira karena masih pagi sampai di Museum Kereta Api sekitar jam 9 pagi, kita bakalan bisa menikmati naik kereta uap yang hanya ada 2x sehari yaitu pagi dan sore. Tapi ternyata kita semua salah, paginya kita dengan paginya orang Jawa itu beda. Museum Kereta Api sudah penuh dan karcis untuk naik kereta uap SOLD OUT. Whoaa...... sedih banget Apalagi pas ngeliat wajahnya Jaja saat kereta uap itu meninggalkan stasiun, sepertinya Mamah rela membayar berapa pun agar Jaja bisa ada di kereta uap saat itu (hiperbolis but it's true ). 

Akhirnya kita main-main di pelataran stasiun tempat kepala lokomotif atau loko-loko kereta uap jaman baheula itu dipajang. Asyiknya museum kereta api Ambarawa ini areanya terbuka, loko-loko dan barang-barang museum lainnya ditempatkan di stasiun yang terbuka. Sepertinya lebih friendly aja .
Ada sekitar dua puluh loko dipajang dan hampir semuanya dinaikin Jaja dan kita foto-foto didalamnya. Jaja dan Kak Icha senang sekali, bergaya seolah-olah mereka Masinis Kereta Api. Puas banget rasanya main ke sini. Awalnya kita semua mau naik kereta uap putaran kedua sekitar jam tiga sore demi menyenangkan Abang Jaja. Tapi kayaknya koq waktu berjalan lambat sekali dan membuat bosan, hehehe........   
Setelah puas foto sana sini diseluruh areal museum, akhirnya capek juga yah. Apalagi udara di Ambarawa ini lumayan sejuk loh, semilir angin gunung yang sejuk ini bikin kita semua ngiler sama wedang ronde yang dijual. Secara kita semua aka Van De Zoels selama di Jogja gak pernah makan wedang ronde, akhirnya rada kalap juga menyeruput minuman hangat ini. Rasanya manteb banget. Khas banget dengan rasa jahe yang tajam ditambah beberapa bulatan moci tawar dan kacang tanah goreng bikin makin sip aja rasanya. Favorit banget deh, lebih suka yang ini daripada model sekoteng Jakarta yang rada mirip rasanya.

Dari museum Ambarawa ini kita langsung menuju Bandungan, masih di daerah Semarang. Rencananya kita mau ke Candi Gedongsongo di Desa Candi, Bandungan. Bandungan ini merupakan daerah puncak, jadi jalanan juga menanjak. Sepanjang jalan menuji Candi tentu saja pemandangannya indah sekali ala pegunungan gitu deh. Apalagi dari atas juga kelihatan pemandangan Jawa Tengah dan sekitarnya terutama Rawa Pening yang luas banget. Subhanallah keren banget. Melewati pasar Bandungan yang banyak menjual aneka makanan seperti gorengan, tahu serasi dan kupat tahu bikin kita semua ngiler cuma sayang pada males turun saking ramenya apalagi berjejer kuda-kuda tunggangan yang bikin Kak Icha dan Abang Jaja ribut pengen naik. Akhirnya kita terus menuju puncak. Tapi sayang disayang, sedikit lagi menuju puncak tempat Candi Gedongsongo, mobilnya Pakde ngadat alias gak bisa nanjak, mesinnya nolak. Jadi terpaksa kita belok lagi dan turun ke bawah, huhu... .  Sebelum turun kita sempat istirahat juga dipelataran parkir tempat bus-bus yang juga tempat jualan aneka tanaman hias. Disana kita beli cilok atau baso kukus ala Bandungan. Aci atau sagu dibentuk bulat tanpa isi dan rasanya agak sedikit pedas merica ditambah saus sambal yang ada sedikit kacangnya. Seperti makanan anak SD, hehehe....... Semuanya beli karena agak sedikit lapar kecuali Mamah karena gak nafsu lihatnya. Kak Icha dan Jaja makannya pakai kecap dan mereka suka banget ternyata, lumayan lah buat mereka mengganjal perut.
Ada hal yang menarik plus mengerikan sepanjang melewati jalur Bandungan menuju puncak Candi Gedongsongo ini. Banyak sekali vila-vila kecil alias motel bertebaran disisi kanan maupun kiri jalan. Dan selalu terpampang plang "Kamar Masih Ada". Selain itu ada juga plang-plang peringatan mengenai bahaya HIV/AIDS yang mengintai. Koq yah jadi bikin praduga macam-macam. Apalagi kata Pakde Ferdi kalo daerah Bandungan ini memang banyak areal prostitusi terselubung. Syerreemm... Apalagi pas sempat mampir ke pom bensin untuk buang air kecil, di dekat toiletnya terpasang gambar patung-patung lelaki telanjang dengan bokong di depan. Tulisannya secara jelas menyebutkan rasane beda. Whoaa......... asli deh langsung merinding. Pesannya kentara sekali, jadi takut karena langsung teringat dengan kaum Nabi Luth yang diazab oleh Allah karena perbuatannya itu. 

Pokoknya jalan-jalan kali ini menyenangkan banget deh, Kak Icha dan Jaja senang banget dan ini yang paling penting.   




Jumat, 13 November 2009

Happy 3rd Birthday Abang Jaja




Anakku Azzam Alifiandra Kosandi, selamat ulang tahun ya. Semoga Abang tambah pintar, sehat selalu, cepat besar, menjadi anak yang sholeh, anak yang selalu menjadi penyejuk jiwa Mamah dan Papah, berinisiatif tinggi, dan penuh kasih sayang. Semoga Allah selalu melimpahkan rezeki-Nya kepadamu, karunia dan berkah dalam kehidupanmu. Amin

Sun sayang selalu,
Papah, Mamah, Kak Icha

Kamis, 29 Oktober 2009

Tour de Jogjakarta and Central Java Part VI - Semarang (Pandanaran-Simpang Lima)





Siapa sih yang gak kenal sama daerah Pandanaran dan Simpang Lima? Pandanaran itu pusat penjualan oleh-oleh khas Semarang seperti Lunpia, Moachi, Wingko Babad dan yang paling terkenal adalah Bandeng Juwana itu. Dan Simpang Lima adalah tempat paling rame yang merupakan pusat wisata kuliner di Semarang.  Pas tiba di Pandanaran kita langsung nyobain makan Lunpia Mataram yang terkenal itu. Harganya lumayan mahal juga, baik lunpia goreng maupun basah dihargai delapan ribu rupiah per potong. Kita masing-masing pesan satu porsi isi 2 buah lunpia (basah dan goreng) dan teh botol. Rasanya enaaak banget secara Mamah suka banget sama lunpia Semarang. Sayang, saat itu Kak Icha dan Abang Jaja masih tidur di mobil jadi gak bisa ikut menikmati enaknya lunpia ini. Lunpianya dibuat sesuai pesanan. Jadi dibikinnya kalo ada yang pesan jadi hangat dan fresh. Kita makannya pakai kuah kental berwarna agak hitam, kental karena pakai maizena dan rasanya agak sedikit manis ditambah acar ketimun dan cabai rawit. Disitu juga disediakan bawang prei utuh sama daunnya dan hanya Pakde Ferdi yang menyantap itu, kita semuanya menolak karena emang gak doyan bawang mentah.


Kebetulan kita ke Panandaran ini dua kali. Pertama, setelah dari Kuil Sam Poo Kong dan yang kedua malam hari sebelum paginya pulang menuju Jakarta. Pas pertama kali, menyusuri Pandanaran bareng Kak Icha dan Jaja, kita beli wingko babad disana, beli lagi lunpia di pinggir jalan yang harganya lumayan miring cuma empat ribu perak per buah tapi harga enak juga, hehehe, dan beli jambu air yang manis dan enak banget kesukaan Kak Icha dan Jaja.  Nah baru yang kedua kalinya kita ke Pandanaran, benar-benar menghabiskan uang buat beli oleh-oleh terutama beli Moachi, Lunpia, Wingko Babad dan pastinya Bandeng Juwana (kalo ini sih yang beli cuma Bude Ima cuma skala besar cuma sayang saat itu Bandeng Vacuum yang bisa tahan 3 bulanan itu habis jadi diganti Bandeng lain yang cuma tahan 2-3 hari saja). Sekali lagi, Mamah beli jambu air yang banyak buat anak-anak yang emang doyan banget. Dan serunya pas lagi di depan Bandeng Juwana, Mamah ketemu sama temang lama Mamah, teman waktu kuliah S2 dulu, Pak Memed yang lagi mudik karena istrinya orang Semarang. Jadi reunian deh, hehehe.....

Setelah dari Pandanaran kita ke Simpang Lima. Kebetulan saat itu malem minggu dan disekeliling bundaran Simpang Lima rame dipenuhi dengan pedagang kaki lima. Mulai dari pedagan pecel sayur, pedagang baju batik, sepatu sandal, pernak-pernik, dan makanan. Asli, disana Mamah lapar mata secara Mamah paling suka sama barang emperan gitu, hehehe... Ternyata Kak Icha dan Jaja juga begitu. Akhirnya Kak Icha beli tas kosmetik dari plastik (buat nyimpen kosmetik Kak Icha seperti bedak dan parfum yang memang buat anak-anak) dan puzzle bergambar barbie. Sedangkan buat Jaja ada tas jinjing bergambar Thomas the Train, puzzle Dora the Explorer dan satu stel (baju dan celana) bola kesebelasan Chelsea warna biru secara Papahnya Jaja penggemar berat Chelsea :-D  Kak Icha dan Jaja juga beli gula-gula kapas warna putih. Sebenarnya Mamah paling gak suka sama makanan seperti ini, selain mengandung banyak gula juga bisa bikin gigi rusak. Tapi, karena sekarang liburan semuanya bebas. Tadi Kak Icha minta gula-gula kapasnya warna pink dan Jaja warna biru. Karena ngeri dan gak percaya sama pewarna yang dipakai, Mamah keukeuh milih warna putih aja yang tanpa pewarna. Kak Icha dan Jaja awalnya agak cemberut dan sedikit ngambek, cuma karena Mamah ngancem kalo gak warna putih gak akan dibelikan, yah terpaksa mereka menerimanya, hehehe..... Lagian ngambeknya juga cuma sebentar, saat gula-gula kapasnya dimakan mereka juga kembali ceria.

Habis keliling bundaran Simpang Lima, langsung deh perut keroncongan. Banyak banget makanan yang mau dibeli. Tadinya mau makan tahu gimbal cuma gak jadi karena sepi pembeli jadi sungkan, mau makan pecel Yu Sri yang rame banget sampai ngantri keluar tenda jadi males juga karena badan udah mulai gerah (belum mandi euy!), akhirnya kita mutusin makan nasi soto bangkong untuk Kak Icha dan Jaja. Asli sotonya segar banget dan anak-anak suka banget. Nah, hari keduanya kita juga main ke Simpang Lima lagi cuma di bundarannya sepi karena hari minggu, ramenya hanya malam minggu saja. Nah, kita semua makan nasi gudeg komplet di depan Ramayana Simpang Lima. Asli enaaak tenan. Mamah, Bude Ima, dan Titi makan nasi gudeg campur sayur jangan jipang, sambel krecek, dan potongan paru goreng tebal plus teh manis. Sedangkan Pakde Ferdi sama hanya ditambah potongan babat. Kalo Kak Icha dan Jaja lain karena gak bisa pedas, jadi makannya nasi gudeg, sayur jangan jipang dan opor telur ditambah tahu bacem. Anak-anak suka banget dan kita semua kenyang pol, rasanya puas banget. Cuma sayang Tante Nopi gak makan karena lagi bete dan kesal, entah sama siapa. Padahal kalo gak mau makan disitu, kita udah tawarin buat dibungkus aja biar dimakan dirumah tapi ternyata gak mau juga. Lucunya pas sampe rumah kelaperan dan gak ada makanan, jadi terpaksa Tante Nopi bikin indomie rebus, hahahaha............ kasian deh!!!

Tour de Jogjakarta and Central Java Part V - Semarang (Sam Poo Kong)




Setelah puas mencari penampakan di Lawang Sewu, kita semua jalan-jalan ke Kota Lama. Menyusuri Stasiun Tawang terus melihat Gereja Belenduk dan putar-putar keliling Kota Lama. Sebenarnya pengen banget foto-foto sepanjang Kota Lama ini terutama di Gereja Blenduk yang terkenal itu, sayangnya ternyata badan kita semua pada capek, males turun dari mobil.

Sepanjang perjalanan menuju Sam Poo Kong ini dilalui dengan badan letih. Semua penghuni mobil tertidur semua kecuali Pakde Ferdi tentunya. Pas sampai di Sam Poo Kong juga semuanya masih tertidur, hanya Pakde Ferdi dan Bude Ima yang masih semangat bergerilya menikmati suasana Kota Semarang ini yang kemudian diikuti setengah hati oleh Mamah dan Tante Nopi. Bahkan Tante Titi, Jaja, dan Icha tidak bisa dibangunkan sama sekali dari tidurnya sehingga terpaksa ditinggalkan di dalam mobil. Ternyata pas memasuki pintu gerbang Kuil Sam Poo Kong saja sudah mulai menarik mata dan hati. Bagus banget serasa di luar negeri, seperti di Asia Timur layaknya China dan Jepang. Langsung deh, narsisnya kumat dan jeprat-jepret sana-sini.

Yang paling intens foto-foto sih kayaknya Pakde Ferdi dan Bude Ima soalnya di setiap sudut pasti deh main jeprat-jepret terutama di patung Laksamana Cheng Ho.  Tapi lucu juga deh, setiap lihat patung Cheng Ho ini jadi teringat sama Yusril Ihza Mahendra yang pernah berperan di film yang sama. Hahaha...... rasa-rasanya aneh (sambil mengernyit). Tapi asli, semuanya keren banget, suasananya kayak Shrine/Jinja di Jepang atau Cina atau Korea. Serasa di luar negeri aja, hehehe......
 Di Sam Poo Kong ini ada tempat peminjaman baju bergaya ala pangeran dan putri dari Negeri Bambu. Bukan hanya untuk anak-anak tapi juga untuk orang dewasa. Warnanya pun macam-macam dan menarik minat. Jadi kita bisa berfoto ala Chinese di Kuil Sam Poo Kong ini. Keren banget yah! Sayangnya kita semua tidak dalam keadaan fresh ketika masuk ke arela kuil ini jadi agak males foto aneh-aneh meski fotonya semuanya kelihatan exciting, hihihi...........  Lagian juga Kak Icha dan Jaja sedang tidur di mobil jadi gak enak juga ninggalin mereka lama-lama hanya untuk bersenang-senang demi kepuasan diri sendiri (halah....alesan, bilang aja gak punya duit, qeqeqeqe...)

Di Kuil Sam Poo Kong ini juga menjual assesoris yang berbau china-china gitu deh. Mulai dari dupa, patung kucing pembawa keberuntungan, kartu pos, kipas, sampai lilin-lilin besar. Bayangin aja, lilinnya dijual muali harga 200 ribu sampe 14 juta rupiah. Alamaaak.... yang bener aja, beli lilin sampe belasan juta gitu, gak kebayang kapan habisnya itu lilin, hehehe... Lihat aja foto dibawah ini, lilin yang tingginya melebihi Mamah ini yang harganya ajegile mahalnya. Btw, Kak Icha marah loh pas lihat foto-foto kita di Kuil Sam Poo Kong ini, katanya koq bisa Mamah jalan-jalan gak ajak Kak Icha dan Jaja. Hihihi.... bagaimana mo ngajak Kak Icha, pasti semua tau deh kalo Kak Icha kan susah banget dibanguninnya  :-D



Kamis, 22 Oktober 2009

Tour de Jogjakarta and Central Java Part IV - Semarang (Lawang Sewu)




Dari Solo sudah menjelang sore menuju Semarang, kita lewat Ampel Boyolali dan Ungaran. Ternyata macet total, udah kayak mau ke Puncak aja padahal ternyata usut punya usut gak ada apa-apa juga, gak ada kecelakaan, gak ada mobil mogok atau apa lah. Karena macet dan hari sudah malam sedangkan kita masih di Boyolali dan gak kuasa menahan lapar, akhirnya kita semua memutuskan makan di pinggir jalan raya. Kebetulan nemu Bakso Blontongan Pak Gendut yang kelihatan rame, padahal sebenernya agak trauma sih makan bakso sejak kejadian di Jogja itu, hehehe....... Ternyata baksonya lumayan enak dan kuah kaldunya terasa. Mamah dan Tante Nopi makan mie ayam bakso dan lainnya makan bakso komplet. Baksonya pake daging tetelan dan babat. Kak Icha dan Tante Titi langsung mengernyit gak suka gitu, gak enak katanya, hahaha........... Tapi alhamdulillah deh perutnya terisi dan gak masuk angin jadinya.

Setelah puas ngebakso, kita melanjutkan ke Ungaran dan melewati Kampoeng Kopi Banaran. Whoaa... pengen banget mampir secara suasananya cozy banget tapi sayang perutnya sudah gak muat lagi diisi dan juga melewati beberapa warung sate sapi Pak Kempleng, sumpah deh bikin ngiler. Sampai di Semarang sekitar jam 9 malem. Rencananya kita akan menginap di rumah sepupu Pakde Ferdi yang letaknya di sebelah Pasar Bulu Semarang. Lokasinya strategis banget, dekat Lawang Sewu, Sam Poo Kong, Pandanaran, Simpang Lima, Kota Lama, pokoknya kemana-mana dekat banget deh.

Besok pagi sebelum jalan-jalan kita semua bergerilya, nyuci bow! Asli deh, cucian banyak banget secara selama liburan kemaren di Jogja, Magelang dan Solo kita semua tuh gak pernah nyuci baju, kebayang dong betapa banyaknya secara kita semua bawa bajunya pas-pasan (lihat aja semua fotonya pake baju yang sama, hahaha....)

Setelah nyuci kita makan nasi pecel pake rempeyek kacang yang enak banget pake gorengan paru, usus, tahu bacem, tempe mendoan dan bakwan. Sedapp banget! Asli, pecelnya enaaaak banget, wangi daun jeruk dan rasanya maknyus abis. Setelah itu kita langsung pergi menuju Lawang Sewu yang deket banget sama rumah. Si Jaja senang banget pas dateng secara di depan Gedung Lawang Sewu ada kereta lokomotif. Pas kita kasih tau kalau di Lawang Sewu ini banyak hantunya langsung agak ngeper juga si Jaja, hihihi... (Mamah jahat yah :-D). Si Jaja aja nyebut Lawang Sewu ini Gedung Obake (gedung setan) :-DD

Masuk ke dalam Lawang Sewu dikenakan tarif cuma kita gak dapet tiket masuknya. Ada perbaikan di tangga utama jadi kalau mau naik ke lantai atas harus melalui tangga samping. Gedungnya lumayan luas juga secara ini bangunan Belanda, bekas kantor perkeretaapian masa penjajahan Belanda dulu. Jika kata orang suasana mistisnya terasa, menurut Mamah justru biasa aja, lebih serem di Kasunanan Solo gitu deh! Cuma Mamah tetep hati-hati juga menjaga anak-anak, takut kenapa-napa, hehehe.....  Gedung Lawang Sewu ini adem sekali apalagi ada pohon beringin besar di tengah lokasi. Menyusuri setiap sudut, melihat pintu, jendela, lantai, atap, wastafel, loteng, menara air yang benar-benar jadul. Kak Icha dan Abang Jaja senang banget secara ruangannya luas, mereka malah berlari-lari kegirangan.

Tadinya kita sempat terpisah dengan Pakde Ferdi karena beliau asyik foto-foto setiap sudut Lawang Sewu sedangkan Mamah, Bude Ima, dan Tante Nopi dan Titi berusaha mencari penampakan yang tidak tampak-tampak, hehehe..... Gak nyangka juga akhirnya kita ketemu sama bintang sinetron Ali Zaenal yang ganteng banget. Pas ngeliat dia, Ali langsung kasih senyuman manis ke kita semua. Kitanya sih cuek aja, pura-pura jual mahal. Pas Ali-nya udah jauh dan gak kelihatan, langsung deh kita semua teriak kegirangan , whoaaa ganteng...ganteng...ganteng. Sumpah deh, udah kayak apaan aja :-DD  Setelah kita ketemu sama Pakde Ferdi, gak nyangka juga kita ketemu sama Ali Zaenal lagi untuk kedua kalinya. Dan sekali lagi, Ali kasih senyuman super manis ke kita dan kitanya pura-pura cuek. Padahal Pakde Ferdi sudah bilang kalau kita mau, Pakde akan fotoin kita semua bareng sama Ali. Kita semua nolak mentah-mentah, sok jual mahal. Eeeh pas Ali-nya pergi lagi, asli deh kita semua nyesel banget gak foto-foto sama dia, hahahaha..............

Setelah menyusuri Gedung Utama Lawang Sewu kita ke gedung samping. Ada yang menggelar barang-barang yang berkaitan dengan Lawang Sewu untuk dipamerkan dan dijual. Ada foto-foto lama mengenai operasional Lawang Sewu, mata uang Indonesia sejak zaman Belanda sampai foto Harry Pantja yang lagi syuting Dunia Lain di Lawang Sewu. Semua penampakan setan-setannya tertangkap kamera. Kak Icha dan Jaja sampe mengernyit ngeri melihat setannya :-D

Tadinya sih kita mau ke terowongan atau lorong bawah tanah Lawang Sewu secara di dalam ternyata ada sungai bawah tanahnya loh dan katanya kalau mau lihat penampakan yah disini tempatnya. Sayang kita gak jadi masuk, selain ngantri, harus pakai peralatan macem-macem seperti jas hujan, sepatu boot, helm, keliatannya repot banget dan kasian anak-anak yang memang gak mau masuk ke dalam, takut obake katanya :-)

Akhirnya kita keluar Lawang Sewu. Niatnya sih pengen makan di depan Lawang Sewu karena ada kios makan yang jual lontong cap gomeh komplit dan soto ayam. Tapi gak jadi karena tempatnya terik banget, sinar mataharinya langsung ke kios itu, ngebayanginnya gak asyik aja sepertinya :-) Akhirnya kita memutuskan untuk jalan-jalan dulu seputar Kota Semarang yang panas tapi menyenangkan ini.