Selasa, 17 November 2009

Tour de Jogjakarta and Central Java Part VII - Ambarawa dan Bandungan





Sehari sebelum pulang, Pakde dan Bude mengajak kita jalan-jalan ke Museum Kereta Api Ambarawa. Ini spesial untuk membahagiakan Jaja yang tergila-gila dengan semua yang berbau kereta api. Maklum deh secara si Jaja itu dari kecil fanatis sama kartun Thomas The Train.

Pagi-pagi setelah sarapan kita langsung berangkat menuju Ambarawa. Gak terlalu jauh juga dari Semarang. Kita semua kira karena masih pagi sampai di Museum Kereta Api sekitar jam 9 pagi, kita bakalan bisa menikmati naik kereta uap yang hanya ada 2x sehari yaitu pagi dan sore. Tapi ternyata kita semua salah, paginya kita dengan paginya orang Jawa itu beda. Museum Kereta Api sudah penuh dan karcis untuk naik kereta uap SOLD OUT. Whoaa...... sedih banget Apalagi pas ngeliat wajahnya Jaja saat kereta uap itu meninggalkan stasiun, sepertinya Mamah rela membayar berapa pun agar Jaja bisa ada di kereta uap saat itu (hiperbolis but it's true ). 

Akhirnya kita main-main di pelataran stasiun tempat kepala lokomotif atau loko-loko kereta uap jaman baheula itu dipajang. Asyiknya museum kereta api Ambarawa ini areanya terbuka, loko-loko dan barang-barang museum lainnya ditempatkan di stasiun yang terbuka. Sepertinya lebih friendly aja .
Ada sekitar dua puluh loko dipajang dan hampir semuanya dinaikin Jaja dan kita foto-foto didalamnya. Jaja dan Kak Icha senang sekali, bergaya seolah-olah mereka Masinis Kereta Api. Puas banget rasanya main ke sini. Awalnya kita semua mau naik kereta uap putaran kedua sekitar jam tiga sore demi menyenangkan Abang Jaja. Tapi kayaknya koq waktu berjalan lambat sekali dan membuat bosan, hehehe........   
Setelah puas foto sana sini diseluruh areal museum, akhirnya capek juga yah. Apalagi udara di Ambarawa ini lumayan sejuk loh, semilir angin gunung yang sejuk ini bikin kita semua ngiler sama wedang ronde yang dijual. Secara kita semua aka Van De Zoels selama di Jogja gak pernah makan wedang ronde, akhirnya rada kalap juga menyeruput minuman hangat ini. Rasanya manteb banget. Khas banget dengan rasa jahe yang tajam ditambah beberapa bulatan moci tawar dan kacang tanah goreng bikin makin sip aja rasanya. Favorit banget deh, lebih suka yang ini daripada model sekoteng Jakarta yang rada mirip rasanya.

Dari museum Ambarawa ini kita langsung menuju Bandungan, masih di daerah Semarang. Rencananya kita mau ke Candi Gedongsongo di Desa Candi, Bandungan. Bandungan ini merupakan daerah puncak, jadi jalanan juga menanjak. Sepanjang jalan menuji Candi tentu saja pemandangannya indah sekali ala pegunungan gitu deh. Apalagi dari atas juga kelihatan pemandangan Jawa Tengah dan sekitarnya terutama Rawa Pening yang luas banget. Subhanallah keren banget. Melewati pasar Bandungan yang banyak menjual aneka makanan seperti gorengan, tahu serasi dan kupat tahu bikin kita semua ngiler cuma sayang pada males turun saking ramenya apalagi berjejer kuda-kuda tunggangan yang bikin Kak Icha dan Abang Jaja ribut pengen naik. Akhirnya kita terus menuju puncak. Tapi sayang disayang, sedikit lagi menuju puncak tempat Candi Gedongsongo, mobilnya Pakde ngadat alias gak bisa nanjak, mesinnya nolak. Jadi terpaksa kita belok lagi dan turun ke bawah, huhu... .  Sebelum turun kita sempat istirahat juga dipelataran parkir tempat bus-bus yang juga tempat jualan aneka tanaman hias. Disana kita beli cilok atau baso kukus ala Bandungan. Aci atau sagu dibentuk bulat tanpa isi dan rasanya agak sedikit pedas merica ditambah saus sambal yang ada sedikit kacangnya. Seperti makanan anak SD, hehehe....... Semuanya beli karena agak sedikit lapar kecuali Mamah karena gak nafsu lihatnya. Kak Icha dan Jaja makannya pakai kecap dan mereka suka banget ternyata, lumayan lah buat mereka mengganjal perut.
Ada hal yang menarik plus mengerikan sepanjang melewati jalur Bandungan menuju puncak Candi Gedongsongo ini. Banyak sekali vila-vila kecil alias motel bertebaran disisi kanan maupun kiri jalan. Dan selalu terpampang plang "Kamar Masih Ada". Selain itu ada juga plang-plang peringatan mengenai bahaya HIV/AIDS yang mengintai. Koq yah jadi bikin praduga macam-macam. Apalagi kata Pakde Ferdi kalo daerah Bandungan ini memang banyak areal prostitusi terselubung. Syerreemm... Apalagi pas sempat mampir ke pom bensin untuk buang air kecil, di dekat toiletnya terpasang gambar patung-patung lelaki telanjang dengan bokong di depan. Tulisannya secara jelas menyebutkan rasane beda. Whoaa......... asli deh langsung merinding. Pesannya kentara sekali, jadi takut karena langsung teringat dengan kaum Nabi Luth yang diazab oleh Allah karena perbuatannya itu. 

Pokoknya jalan-jalan kali ini menyenangkan banget deh, Kak Icha dan Jaja senang banget dan ini yang paling penting.   




Tidak ada komentar:

Posting Komentar