Dari Semarang kita melewati Kendal menuju Pekalongan. Sengaja ke Pekalongan dulu buat beli batik yang banyak secara gak sempet beli banyak di Beringharjo dan Pasar Klewer Solo. Alhamdulillh, ternyata nyampe Pekalongan jam 9 pagi dan toko-toko sudah banyak yang buka. Seneng banget karena bisa milih-milih sepuasnya apalagi harganya lumayan terjangkau untuk ukuran kantong Mamah. Nah, karena batik jadi pakaian wajib di UI untuk hari jumat, Mamah jadi semakin kalap. Pas ngeliat ada baju batik untuk pasangan suami istri, jadi tambah kalap lagi. Akhirnya ngeborong deh, Mamah beli batik warna abu-abu semi sutera, batik katun jatuh warna merah, coklat gelap, dan pasangan warna campuran antara hitam dan coklat susu buat Mamah dan Papah. Sebenernya agak nyesel juga sih waktu di Beringharjo, banyak yang jual kain batik meteran yang murah meriah. Bayangin aja yang semi sutera dan agak glamour aja harga semeternya cuma 22 ribu rupiah. Sayang, saat itu perut Mamah gak mau kompromi sih, jadi gak kebeli deh.
Dari Pekalongan kita ke Tegal, kampung halaman Papah tercinta. Kita lihat laut Tegal yang biru sekali ditempa sinar matahari selama perjalanan. Sayangnya hari panas terik jadi kita juga gak mampir ke pantainya. Di kota Tegal ini kita disambut dengan sambutan khas "Tegal Laka-laka". Sebenarnya di Tegal ini banyak saudara Papah seperti Tante Dewi, hanya saja karena gak tau alamatnya ya gak mampir deh! Kota Tegal lumayan rame dan sengaja kita datang ke sini buat cari tahu Tegal yang terkenal itu. Kita beli tahu Tegalnya di jalan Adiwerna, pas di depan Bank Mandiri. Kios tahu Tegal ini adalah yang pertama kali berdiri dan yang jual chinese (pantesan enak
Puas makan tahu bukan berarti tidak ada slot untuk makanan lain. Kita semua langsung menuju Brebes buat makan bebek khas sana yaitu blengong. Blengong ini adalah sejenis unggas hasil persilangan antara itik dan entok. Kita semua udah ngiler secara kita semua penggemar bebek. Tapi sayang, setelah menjelajah Kota Brebes sampai ke pelosoknya tetap juga tak ditemukan rumah makan yang menjual blengong ini buka. Semuanya tutup karena masih suasana lebaran. Whoaaa........... asli sedih banget, nafsu makan mulai menurun perlahan. Akhirnya untuk menaikkan kembali kelesuan ini Pakde mengajak makan sate kambing di dekat pasar raya Brebes. Sate kambingnya empuk karena terbuat dari kambing muda dan pastinya warna satenya setelah dibakar itu bukan abu-abu kehitaman tetapi abu-abu putih. Ini karena dibakar tanpa bumbu apa-apa dan baru dikasih bumbu kecap dan irisan bawang, tomat dan cabai ketika akan disantap jadi kerasa banget kambingnya. Satu porsi sate kambingnya isi 10 tusuk dihargai 17 ribu rupiah. Lumayan lah! Setelah itu kita mampir ke pasarnya buat beli pilus Tegal, gak tanggung-tanggung belinya satu bal gitu udah kayak mau jualan aja, hehehe...........
Meski gak banyak mampir di tempat wisata di Tegal dan Brebes, alhamdulillah masih bisa wisata kuliner meski terbatas :-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar