Selasa, 25 Mei 2010

Woti Si Kelinci Putih




Beberapa waktu lalu, setelah jalan-jalan dari Kebun raya Bogor, Kak Icha dan Abang Jaja minta dibelikan sepasang kelinci putih. Awalnya Mamah gak setuju karena masih tinggal di rumah Nenek dan Aek apalagi si Nenek paling tidak suka sama hewan peliharaan. Tapi, karena anak-anak merenggut dan ngambek, akhirnya Mamah membelikan juga mereka sepasang kelinci berwarna putih untuk anak-anak.

Awalnya sih Mamah menyarankan untuk membeli sepasang kelinci dengan warna bulu hitam dan putih. Mamah paling suka dengan kelinci berbulu hitam karena sebelumnya waktu Mamah kuliah Mamah memeliharan kelinci berbulu hitam dari kecil sampai besar, namanya EMBLEK. Dulu kelincinya ada 4 ekor tapi yang tetap bertahan hidup hanya Emblek. Emblek itu kelinci yang lincah dan pintar. Bayangkan saja, Emblek itu kalo lapar langsung gusruk-gusruk ke kita untuk mengikuti dia ke arah kulkas. Emblek tahu kalau makanannya disimpan di kulkas. Selain itu, Emblek juga tahu kalau pipis dan buang kotoran selalu di kamar mandi. Hebat kan?? Sayangnya Emblek mati karena shock dikejar-kejar oleh anjing liar. Sedih sekali padahal si Nenek sayang sekali sama Emblek.   

Nah, karena Kak Icha dan Abang Jaja bersikeras memilih warna putih akhirnya kita beli juga meski sebenarnya kelinci putih lebih rentan sakit dibandingkan yang hitam. Kak Icha memberi nama kelincinya "Barbie" dan Abang Jaja memberi namanya "Robot".   Tapi, baru dua hari si Robot kekilangan nafsu makan dan hari berikutnya sekarat dan meninggal. Sedih sekali dan akhirnya kita mengubur Robot di halaman depan rumah.

Karena kelincinya tinggal satu ekor, Mamah memutuskan mengganti nama Barbie jadi si Whitey (Waiti). Maksudnya agar kelinci itu tidak hanya menjadi milik Kak Icha saja tapi juga Abang Jaja dan semua keluarga. Entah kenapa, nama Whitey (Waiti) lama-lama jadi Woti dan akhirnya kita semua malah memanggil kelinci putih peliharaan itu dengan nama Woti.

Si Woti memang belum sepintar Emblek, karena masih suka pipis dan buang kotoran sembarangan. Ini yang bikin si Nenek karena rumah jadi bau pipis kelinci yang pesing. Soal makanan sepertinya Woti tipikal pembosan, karena kalau terus-terusan di kasih kangkung dan wortel malah mogok makan, yang ada malah makan daun mangga kering. Bikin khawatir aja jadinya. Malah waktu kupas mangga, si Woti malah makan kulit mangga dengan lahap, alhasil besoknya Woti gak makan apa-apa dan wajahnya jadi murung gitu. Kita semua menduga, jangan-jangan Woti sakit perut gara-gara kulit mangga itu, padahal manis loh mangganya.

Yang bikin heboh adalah kemarin. Malam hari, saat Mamah mau beli kangkung di pasar untuk Woti. Kak Icha teriak memanggil Mamah dan Papah. Ternyata si Woti seluruh wajahnya terutama mulut dan hidung penuh dengan darah segar. Mamah juga ikutan teriak memanggil Tante Novi. Tante Novi ini sayang banget sama Woti. Ternyata si Woti makan lintah. Dan Lintahnya langsung menghisap darah Woti. Si Woti pintar karena lintahnya langsung digigit dan terbelah. Jadi darah di tubuh lintah itu muncrat membasahi wajah Woti. Tante Novi langsung mengambil sisa-sisa lintah yang masih menempel di mulut dan hidung Woti. Kejadian ini bikin kita semua sedih terutama Kak Icha yang daritadi nangis terus. Abang Jaja sedih tapi sepertinya agak cuek. Malah Abang Jaja bilang "Mah, kalo kelincinya mati, kita beli yang baru ya?". Whoaa... Ampun deh!

Senang juga punya hewan peliharaan apalagi pas kena musibah seperti ini, membuat kita bertambah sayang dan lebih peduli dalam merawat Woti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar