Beberapa
waktu lalu, setelah jalan-jalan dari Kebun raya Bogor, Kak Icha dan
Abang Jaja minta dibelikan sepasang kelinci putih. Awalnya Mamah gak
setuju karena masih tinggal di rumah Nenek dan Aek apalagi si Nenek
paling tidak suka sama hewan peliharaan. Tapi, karena anak-anak
merenggut dan ngambek, akhirnya Mamah membelikan juga mereka sepasang
kelinci berwarna putih untuk anak-anak.

Awalnya
sih Mamah menyarankan untuk membeli sepasang kelinci dengan warna bulu
hitam dan putih. Mamah paling suka dengan kelinci berbulu hitam karena
sebelumnya waktu Mamah kuliah Mamah memeliharan kelinci berbulu hitam
dari kecil sampai besar, namanya EMBLEK. Dulu kelincinya ada 4 ekor tapi
yang tetap bertahan hidup hanya Emblek. Emblek itu kelinci yang lincah
dan pintar. Bayangkan saja, Emblek itu kalo lapar langsung gusruk-gusruk
ke kita untuk mengikuti dia ke arah kulkas. Emblek tahu kalau
makanannya disimpan di kulkas.

Selain itu, Emblek juga tahu kalau pipis dan buang kotoran selalu di kamar mandi. Hebat kan??

Sayangnya Emblek mati karena shock dikejar-kejar oleh anjing liar. Sedih sekali padahal si Nenek sayang sekali sama Emblek.

Nah,
karena Kak Icha dan Abang Jaja bersikeras memilih warna putih akhirnya
kita beli juga meski sebenarnya kelinci putih lebih rentan sakit
dibandingkan yang hitam. Kak Icha memberi nama kelincinya "Barbie" dan
Abang Jaja memberi namanya "Robot".

Tapi, baru dua hari si Robot kekilangan nafsu makan dan hari berikutnya
sekarat dan meninggal. Sedih sekali dan akhirnya kita mengubur Robot di
halaman depan rumah.

Karena
kelincinya tinggal satu ekor, Mamah memutuskan mengganti nama Barbie
jadi si Whitey (Waiti). Maksudnya agar kelinci itu tidak hanya menjadi
milik Kak Icha saja tapi juga Abang Jaja dan semua keluarga. Entah
kenapa, nama Whitey (Waiti) lama-lama jadi Woti dan akhirnya kita semua
malah memanggil kelinci putih peliharaan itu dengan nama Woti.
Si
Woti memang belum sepintar Emblek, karena masih suka pipis dan buang
kotoran sembarangan. Ini yang bikin si Nenek karena rumah jadi bau pipis
kelinci yang pesing.

Soal makanan sepertinya Woti tipikal pembosan, karena kalau
terus-terusan di kasih kangkung dan wortel malah mogok makan, yang ada
malah makan daun mangga kering. Bikin khawatir aja jadinya. Malah waktu
kupas mangga, si Woti malah makan kulit mangga dengan lahap, alhasil
besoknya Woti gak makan apa-apa dan wajahnya jadi murung gitu. Kita
semua menduga, jangan-jangan Woti sakit perut gara-gara kulit mangga
itu, padahal manis loh mangganya.

Yang
bikin heboh adalah kemarin. Malam hari, saat Mamah mau beli kangkung di
pasar untuk Woti. Kak Icha teriak memanggil Mamah dan Papah. Ternyata
si Woti seluruh wajahnya terutama mulut dan hidung penuh dengan darah
segar. Mamah juga ikutan teriak memanggil Tante Novi. Tante Novi ini
sayang banget sama Woti. Ternyata si Woti makan lintah. Dan Lintahnya
langsung menghisap darah Woti. Si Woti pintar karena lintahnya langsung
digigit dan terbelah. Jadi darah di tubuh lintah itu muncrat membasahi
wajah Woti. Tante Novi langsung mengambil sisa-sisa lintah yang masih
menempel di mulut dan hidung Woti. Kejadian ini bikin kita semua sedih
terutama Kak Icha yang daritadi nangis terus.

Abang Jaja sedih tapi sepertinya agak cuek. Malah Abang Jaja bilang
"Mah, kalo kelincinya mati, kita beli yang baru ya?". Whoaa...

Ampun deh!
Senang
juga punya hewan peliharaan apalagi pas kena musibah seperti ini,
membuat kita bertambah sayang dan lebih peduli dalam merawat Woti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar