Kali
ini masih tentang kuetek alias ketiak :-) Bukan joke-nya anak-anak tapi
justru mengenai pola pikir Kak Icha. Mamah tidak menyangka kalau Kak
Icha sudah memliki persepsi sendiri mengenai perempuan dan laki-laki
padahal Mamah gak pernah mengajarkan hal tersebut.
Biasanya Mamah selalu rajin mencukur bulu ketiak karena setiap hari kalau di rumah Mamah selalu memakai baju tank top atau sackdress tanpa lengan. Nah, sejak Papah pulang, Mamah males mencukur bulu ketiak itu, karena si Papah memang tidak pernah mencukur bulu ketiaknya. Katanya gak mau bulu ketiaknya menjadi tebal dan menghindari penyerapan langsung roll on ke dalam pori-pori ketiak. Ya sudah akhirnya Mamah juga membiarkan bulu ketiak ini tumbuh. Tidak menyangka kalau Kak Icha protes terhadap hal tersebut.
Kak Icha : "Mamah, koq bulu kueteknya panjang sih?"
Mamah : "Iya Kak... Mamah males nyukur nih!"
Kak Icha : "Koq males sih Mah? Kan jelek dilihatnya!"
Mamah : "Koq jelek?? Papah aja bulu keteknya panjang. Kan gak apa-apa!"
Kak Icha : "Kalau Papah kan laki-laki. Bulu kueteknya panjang tidak apa-apa. Tapi Mamah kan perempuan. Itu tidak bagus dilihat orang. Jelek, Mah!"
Mamah : (asli deh Mamah bengong) "Koq gitu sih? Perempuan dan Laki-laki kan sama saja!"
Kak Icha : "Beda, Mah! Laki-laki kan ganteng jadi gak apa-apa ada bulunya. Kalau perempuan kan cantik, tidak boleh ada bulunya!"
Mamah : (speechless)
Wah.... Mamah jadi bingung mau berkata apa. Ternyata Kak Icha memiliki persepsi sendiri mengenai peran perempuan dan laki-laki. Hhmm..... jadi bingung sendiri. Kapan Mamah mengajarkan hal tersebut? How come? Mudah-mudah, suatu hari Kak Icha bisa mengerti konstruksi peran sosial perempuan dan laki-laki, hhmm........
Kayaknya Kak Icha kebanyakan nonton barbie nih, hahaha...........
Biasanya Mamah selalu rajin mencukur bulu ketiak karena setiap hari kalau di rumah Mamah selalu memakai baju tank top atau sackdress tanpa lengan. Nah, sejak Papah pulang, Mamah males mencukur bulu ketiak itu, karena si Papah memang tidak pernah mencukur bulu ketiaknya. Katanya gak mau bulu ketiaknya menjadi tebal dan menghindari penyerapan langsung roll on ke dalam pori-pori ketiak. Ya sudah akhirnya Mamah juga membiarkan bulu ketiak ini tumbuh. Tidak menyangka kalau Kak Icha protes terhadap hal tersebut.
Kak Icha : "Mamah, koq bulu kueteknya panjang sih?"
Mamah : "Iya Kak... Mamah males nyukur nih!"
Kak Icha : "Koq males sih Mah? Kan jelek dilihatnya!"
Mamah : "Koq jelek?? Papah aja bulu keteknya panjang. Kan gak apa-apa!"
Kak Icha : "Kalau Papah kan laki-laki. Bulu kueteknya panjang tidak apa-apa. Tapi Mamah kan perempuan. Itu tidak bagus dilihat orang. Jelek, Mah!"
Mamah : (asli deh Mamah bengong) "Koq gitu sih? Perempuan dan Laki-laki kan sama saja!"
Kak Icha : "Beda, Mah! Laki-laki kan ganteng jadi gak apa-apa ada bulunya. Kalau perempuan kan cantik, tidak boleh ada bulunya!"
Mamah : (speechless)
Wah.... Mamah jadi bingung mau berkata apa. Ternyata Kak Icha memiliki persepsi sendiri mengenai peran perempuan dan laki-laki. Hhmm..... jadi bingung sendiri. Kapan Mamah mengajarkan hal tersebut? How come? Mudah-mudah, suatu hari Kak Icha bisa mengerti konstruksi peran sosial perempuan dan laki-laki, hhmm........
Kayaknya Kak Icha kebanyakan nonton barbie nih, hahaha...........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar