Selasa, 03 Maret 2009

Jaja Gak Mau Mamah Kerja




Whoaaa............. sedih banget deh hari ini. Biasanya mamah berangkat kerja setelah mengantarkan Kak Icha sekolah. Saat itu Jaja biasanya masih tertidur lelap dan bangunnya sekitar jam 9 atau 10. Nah, pagi ini ternyata Jaja bangunnya lebih pagi. Jam 6 sudah bangun dan minta susu.

Sudah mulai menduga sih kalau ini akan sedikit repot jadinya karena melihat pengalaman terdahulu begitu. Jaja marah dan nangis kalau melihat mamah pergi kerja. Ada aja alasan yang dibuatnya untuk menahan mamah tetap bersama Jaja. Atau pilihan keduanya adalah Jaja minta ikut sama mamah pergi ke kantor. Hari ini Jaja sudah mulai rewel ketika mamah sudah mulai berpakaian rapih dan berjilbab. Jaja menangis dan bilang mamah mau kemana??? Mamah bilang kalau mamah mau kerja cari uang buat beli coklat kacang (sebutan untuk silverqueen almond kesukaan Jaja). Sambil menangis, Jaja bilang mau ikut. Mamah bilang, Jaja di rumah saja sama Nenek, nanti jemput Kak Icha pulang sekolah dan naik odong-odong. Jaja gak mau dan tetap minta ikut sama mamah.

Susah juga untuk meninggalkan Jaja dalam keadaan menangis seperti itu. Karena mamah tidak ingin Jaja merasa dicuekin sama mamah. Mamah merasa, sejak kerja ini, perhatian untuk Jaja memang sudah banyak berkurang intensitasnya. Dan mamah gak mau memperparah hal tersebut dengan pergi kerja begitu saja meninggalkan Jaja dalam keadaan menangis. Jaja marah dan mengamuk. Mamah sedih dan bahkan ikutan menangis juga. Andai bisa dibawa ke kantor, pasti akan mamah bawa, sayangnya tidak bisa. Mamah cuma bilang minta maaf sambil memeluk Jaja biar tangisan Jaja berhenti. And it works.  Mamah bilang, mamah sayang Jaja, mamah kerja cari uang juga untuk Jaja, nanti kapan2 kalau kerjaan di kantor agak santai, Jaja pasti mamah ajak ke kantor apalagi di UI sekarang ada penangkaran rusa, pasti Jaja senang melihatnya.

Saat mamah mau berangkat kerja, tangisan Jaja memang sudah berhenti. Tapi saat mamah mau menciumnya dan mengambil tangannya agar salim tangan dengan mamah, Jaja sama sekali gak mau menatap mamah. Hhmm..... sedih sekali. Andai bisa membolos pasti mamah akan bolos kerja. Tapi, mamah tetap berangkat kerja sambil berjanji, yes, i'l pay all this someday to show you that i love you so much.

Icha Mulai Mandiri




Kakak Icha sekarang sudah mulai mandiri. Saat mamah pulang kerja beberapa waktu lalu, Kak Icha bilang kalau mulai besok mau mandi pagi sendiri, pakai baju dan kaos kaki sendiri, trus menyiapkan tas sekolahnya sendiri. Tentu mamah senang sekali mendengarnya. Sambil mencium Kak Icha, mamah bilang "Mamah sayang Kak Icha, tambah pintar yah anak Mamah". Kak Icha tersenyum senang.

Esoknya, Kak Icha susah bangun seperti biasanya sampai Mamah mengingatkan kalau hari ini katanya Kak Icha mau mandi dan pakai baju sendiri. Icha langsung bangun dan mandi. Sebenarnya mamah senang sekali Kak Icha sudah mulai mandiri seperti ini. Tapi yah, karena masih dalam tahap belajar, proses ini dilakukan dengan waktu yang lumayan lama, tidak seperti biasanya. Padahal mamah juga harus buru-buru pergi ke kantor juga. Kak Icha pun jangan sampai terlambat karena sebelum masuk kelas, Kak Icha harus ikut upacara dan baca ikrar yang sudah menjadi rutinitas setiap hari di TK-nya.

Tidak hanya mandi yang lumayan lama, ternyata pakai baju juga begitu. Sebenarnya Kak Icha sudah biasa juga mandi dan pakai baju sendiri sejak kita tinggal di Kyoto dulu. Mungkin tidak terasa lama karena mamah waktu itu santai, tidak mengejar sang waktu dalam mengerjakan setiap tugas. Relatif lebih sabar. Dan mungkin karena sekarang harus kerja pagi-pagi, menunggu sebentar saja sepertinya menjadi sebuah beban. Hhmm.... payah deh mamah ini.

Karena gak sabaran seperti ini akhirnya mamam memutuskan ikut membantu Kak Icha mandi dan pakai baju. Awalnya Kak Icha marah dan bersikeras kalau Kak Icha mau melakukan itu semua sendiri, tapi mamah tetap keukeuh ingin bantu. Sekarang ini kayaknya Kak Icha pasrah deh dan membiarkan mamah membantunya mandi dan pakai baju.

Hhmm..... serba salah jadinya

Rabu, 25 Februari 2009

Kangen Papah




Sudah sekitar 6 bulan ini Mamah, Kak Icha dan Abang Jaja tidak bertemu fisik dengan Papah. Soalnya Papah masih tugas studi di Kyoto, Jepang. Tentu kangen banget rasanya. Untuk Mamah yang hampir setiap hari terhubung dengan internet, mungkin bisa leluasa chatting sama Papah terutama saat2 kangen. Tapi anak-anak mungkin bisa melalui telefon tapi rasanya tidak terlalu banyak pengaruhnya.

Nah, sejak lama Kak Icha dan Jaja selalu bilang kalo mereka kangen sama Papah. Apalagi kalo ada pesawat terbang melintas di atas rumah, pasti deh Abang Jaja teriak "Mah...mamah...itu pecawat, ada Papah...tunggu...tunggu...pecawat tunggu Jaja, Jaja mau ikut ke Jepang, mau ketemu Papah, Jaja kangen Papah".  Kalau Ka Icha hampir setiap mau tidur atau bangun tidur pasti bilang "Mah...Icha kangen sama Papah...kangen pengn dipeluk Papah. Icha kan sayang banget sama Papah". Whoaa....... memang Icha itu sudah dari kecil terbiasa kalau mau tidur selalu minta dipeluk sama Mamah dan Papah.

Kebutuhan kasih sayang fisik buat anak kecil memang penting sekali. Alhamdulillah, meski saat ini Papah terpisah sementara dengan Mamah, Kak Icha, dan Abang Jaja, sosok Papah yang baik terus teringat dalam memori kita, jadi rasanya kangen terus.

Sekitar akhir April 2009 ini Papah mau pulang ke Indonesia sekitar 2 bulan untuk penelitian. Alhamdulillah bisa bertemu lagi. Mudah2an juga studi Papah selesai tepat waktu, sekitar Akhir Maret 2010 dan kita semua bisa berkumpul bersama lagi. Jadi, kalau kangen bisa langsung dipeluk, hehehe..................

Senin, 23 Februari 2009

Jaja dan Alasan Gak Mau Tidur




Bukan hanya Kak Icha saja yang sudah pintar mencari alasan, ternyata Abang Jaja pun juga sudah pintar loh!!!! Bahkan Mamah sempat kecele juga dengan alasan Jaja ini dan ditertawakan sama Tante-tantenya Kak Icha dan Abang Jaja karena bisa diperdaya oleh bocah ini.

Abang Jaja itu sekarang paling susah kalo diajak tidur malam sama Mamah. Selalu menolak. Entah lari-lari kalo dikejar Mamah atau masuk ke kamarnya Nenek dan Aek untuk bercanda dengan mereka. Kadang kalo sudah begitu Mamah jadi membiarkan Abang Jaja bercanda dengan Nenek dan Aek. Soalnya melihat mereka bercanda rasanya menyenangkan dan gak sampai hati mengganggu mereka.

Nah, kalo sudah malem begitu, biasanya Mamah sudah gak sabar lagi. Soalnya besok pagi-pagi Mamah juga harus berangkat kerja dan mengantarkan Kak Icha sekolah. Jadi tidurnya pun harus cukup soalnya kasihan Kak Icha kalo ke sekolah tidurnya masih kurang. Pasti nanti di kelas ngantuk dan gak semangat belajarnya.

Akhirnya, Mamah selalu mengangkat Abang Jaja dengan paksa ke tempat tidur. Kunci pintu agar Abang Jaja gak bisa keluar dan matikan lampu. Ini selalu membuat Abang Jaja menjerit-jerit. "Mah..... mamah... Jaja gak mau bobo disini, banyak obake.... banyak obake... Jaja takut."  Mamah tetap diam dan pura-pura tidur. Biasanya Kak Icha gak pernah terganggu dengan suara ributnya Jaja ini, kalau disuruh tidur, pasti plek langsung tidur. Padahal si Jaja teriak kayak gini lebih dari 20x.

Gak mempan dengan obake, Jaja ganti alesan lagi tapi dengan teriakan yang kencangnya sama. "Mah.... mamah... Jaja mau pipis....mau pipis...mau pipis....."  Dan mamah tetap diam lagi, pura-pura tidur. Gak bergeming sedikit pun.

Akhirnya Abang Jaja ganti alasan lagi karena mamah gak mempan dengan alasannya ini. "Mah...mamah... Jaja haus mah, teriak mulu... Jaja mau minum susu mah, Jaja minum susu mah....Jaja minum susu mah.... Akhirnya setelah berulang-ulang minta susu... Mamah bangun juga dan membukakan pintu buat Abang Jaja biar Abang Jaja bisa ambil susunya sendiri di kulkas untuk diminum.

Ternyata, Abang Jaja lagsung lari dan gak mau minum susu. Alamaaak... dia langsung ketawa-ketiwi gitu pas keluar dari kamar, seolah-olah seperti burung yang baru dibebaskan dalam sangkarnya. Ini sudah yang kesekian kalinya, hampir setiap malam selalu seperti ini dan selalu saja Mamah kecele dan terpedaya dengan akalnya bocah ndut kesayangan mamah ini. Whoaa........... Jaja...Jaja.... kamu itu sudah pintar yah!!

Kak Icha dan Alasan Gak Mau Masuk Sekolah




Sebenernya ini sudah lama. Setiap mau sekolah pasti Kak Icha selalu mengeluh dan bilang gak mau sekolah. Pertama kali alasannya "Mah, Kak Icha kakinya sakit banget, gak usah sekolah yah?!" Hehehe... Mama tersenyum dan bilang  "Ya udah deh, Kak Icha sekolah dulu nanti kalo pulang sekolah masih sakit kakinya, kita ke dokter yah!"" Kak Icha biasanya cemberut dan Mamah tetap cuek aja, pura-pura gak menanggapi sakitnya Kak Icha.

Ternyata benar, sepulang sekolah, Kak Icha gak pernah mengeluh lagi soal kakinya. Nah, tadi pagi juga terulang hal yang sama. Kali ini Kak Icha mengeluh pinggangnya sakit, dan Mamah tetap cuek. Alhasil, Kak Icha cemberutin Mamah lagi.

Kak Icha pernah juga marah sama Mamah gara-gara tidak mau mengabulkan permintaannya untuk tidak masuk sekolah karena sakit. Malah marahnya juga pernah ke Ibu Rohilah, Guru TK-A di TK Islam Bakti I, tempat Kak Icha sekolah saat ini. Saat ekskul menari, Icha bilang gak mau menari karena malas, kalau menari nanti Kak Icha kakinya sakit. Hahahaha..... 

Lucu juga dengan alasan anak gak mau sekolah. Jadi inget, dulu alasan Mamah gak mau sekolah itu apa yah???? Wonder what it is

Senin, 17 November 2008

d'masiv




Sekarang Kak Icha dan Jaja sudah hapal luar dalam lagunya d'masiv yang judulnya mamah lupa tapi lumayan inget liriknya, yang kayak gini loh......................

ku akui ku sangat... sangat mengharapkanmu
tapi ku sadar ku di antara mereka
aku..... tak mengerti
mengapa, ini semua harus terjadi
lupakan aku........... bla...bla...bla........

Nah, pokoknya Kak Icha dan Jaja hampir setiap hari nyanyi lagu ini. Keluarga besar, mulai dari Aek, Nenek, Tante Iya, Tante Enop, dan Tante Titi suka tertawa-tawa mendengarnya soalnya lafaz Kak Icha dan Jaja masih sangat kanak-kanak sekali. Saking lucunya, nada sambung handphone mamah juga pakenya lagunya d'masiv ini supaya kalo anak-anak nelfon bisa sekalian mendengar dan ikut bernyanyi.

Jumat, 24 Oktober 2008

Ketika Sakit



Sudah lima hari kemarin Abang Jaja sakit panas. Dua hari panas sekitar 39-40 derajat celcius tapi besoknya kemudian alhamdulillah normal ke 36. Tapi, ternyata besoknya lagi naik kembali ke 38,7 dan besoknya turun lagi, normal, dan besok paginya panas lagisekitar 38,5. Trus siangnya sampai sekarang alhamdulillah normal kembali. Kak Icha juga ketularan Jaja, demam juga, dua hari demamnya sekitar 40^ dan tadi pagi alhamdulillah sudah normal lagi.

Nah, perjalanan panjang tentang sakitnya anakku ini benar-benar bikin heboh. Terutama buat si Nenek dan Aeknya yang sedikit cerewet. Mamah sih lumayan tenang karena sudah observasi dan prediksinya Kak Icha dan Jaja sakit flu dan batuk. Ya iyalah, lihat suhu udara yang tidak karuan sebentar panas sebentar hujan, kadang panas banget tiba-tiba mendung tapi tidak hujan juga dan udara panasnya malah makin tinggi.  Kelihatannya prediksi Mamah lumayan bagus juga. Melihat anak-anak makannya masih mau, meski cuma sedikit, Mamah selalu suplai cairan terus menerus biar mereka gak dehidrasi, mulai dari orange juice, teh manis, susu hangat, yoghurt,air putih trus lihat urine dan fesesnya bagus.  So, gak terlalu khawatir meski agak deg-degan juga nunggu kapan sembuhnya.

Nah, mulai menjadi permasalahan ketika si Nenek dan Aek komplain lihat Mamah menangani cucu mereka itu. Katanya Mamah koq cuek aja, seperti tidak peduli kalo anaknya sakit Si nenek memang khawatir banget soal demam anak. Dia kaget banget pas gw bilang kalo sebenarnya panas itu bagus buat anak itu sendiri, karena dengan panas justru virusnya dilemahkan dan bikin antibodi sendiri. Si Nenek gak percaya. Dia bilang panas itu awal dari semua penyakit berbahaya. Dan kakaknya ada yang meninggal karena panas ini. Pokoknya khawatir banget deh! Mamah cuma bilang panas memang bikin bahaya kalo si anak jadi dehidrasi karena panasnya itu, maka suplai cairan sangat dibutuhkan. Tapi tetap aja gak percaya.

Akhirnya, kalah suara. Sempet gamang juga sih soalnya si Jaja panasnya naik turun begitu dalam lima hari ini. Kita pun berangkat ke RS Hermina Bekasi. Asli, nunggu antriannya lama banget, Kak Icha dan Jaja sampe kesel dan nangis karena mereka berdua gak suka duduk dan nunggu gitu aja. Hari minggu dokternya baru satu orang yang ada. Akhirnya Mamah ternyata dapet nomor urut terakhir ternyata saat dokternya mau pulang. Udah gitu sekali masuk dua orang pasien, si Icha dan Jaja. Diperiksa sebentar, cuma periksa perut dan dada. Trus dia bilang kasih diagnosa radang tenggorokan, trus kasih Kak Icha sanmol, transpulmin, plus racikan yang isinya anti muntah, anti alergi, dan antibiotik. Mamah bilang anak-anak gak muntah dan gak alergi. Dia bilang ooooooh...........  Trus buat Jaja dikasih sanmol, sporetik (anti biotik) dan racikan yang isinya anti muntah dan anti alergi. Mamah gak ngeh dia kasih obat racikan ini sama Jaja soalnya di dalam ruangan itu Kak Icha dan Jaja nangis dan ngamuk sejadi-jadinya. kak Icha sampai batuk-batuk gak berhenti-henti. Trus Mamah juga disuruh periksa darah buat Jaja. Trus dokternya bilang kalo obat panasnya harus terus diberikan ke Jaja biarpun panasnya sudah turun, tunggu stabil dulu. Kaget banget deh dengernya, koq gitu??? Mamah bilang kalo diminta dokter yang dulu di Jepun ngasih obat panas jika demam anak di atas 38,5 derajat celcius. Tapi dia keukeuh sama pendapatnya. Aiiiihhhh  Pokoknya repot deh. Total di rumah sakit sekitar 3 jam, capek berat.

Ternyata hasil lab. pemeriksaan darah Jaja semua normal dan negatif. Alhamdulillah banget dan rada kesel juga sih soalnya dari awal udah bilang ke dokternya kalo observasi saya semua ok dan yakin kalo gak apa-apa. Dokternya cuma mau mastiin aja kalo semuanya ok.

Sebenernya saat diperiksa si Jaja dan Icha panasnya sudah turun. Kak Icha 37,4 dan Jaja 36,1 yang menurut gw normal. Finally Mamah bayar total kerugiannya sekitar 600 ribu rupiah dan anak-anak alhamdulillah cuma minum sanmolnya aja karena Mamah gak kasih antibiotik dan racikan. Kak Icha gak mau minum transpulmin, langsung dilepehin alias dikeluarin lagi. Katanya gak enak, hehehe.............

Dan, alhamdulillah berkat sanmol yang het-nya 12 ribu perak tapi harus dibayar seharga 600 ribu perak, pagi ini anak-anak Mamah sudah tidak demam lagi. Mudah-mudahan sehat terus ya Kak Icha dan Jaja sayang, i love you so much :-)

p.s ; yang menyenangkan saat Mamah ke rumah sakit itu adalah ketika Mamah ketemu sama dokter muda yang super tampan, dia jadi dokter umum disitu dan dia adalah kakak kelas Mamah di SMA dan ternyata masih kenal sama Mamah. Dia bilang Kartini yaa????? Whoaaa........ langsung berbunga-bunga hati ini. Hahahahaha   Lain kali kayaknya kalo mau ke dokter umum, sama dia aja deh